Selasa, 31 Januari 2012

Cerpen Cinta : SENYUM RABIAH

Cerpen Cinta  : SENYUM RABIAH merupakan sebuah cerpen cinta yang sangat sesiatu , moga Kalian suka dech dengan cerpen Cinta Ini


Cerpen : SENYUM RABIAH

Dan aku rela meninggalkan pacarku…
Demi ‘tuk dapatkan kau kekasihku…
Lagu Naif mengalun dari dalam rumah, begitu aku memasukinya. Siapa lagi kalau bukan tapenya Awik. Setiap waktu, setiap jam, menit, maupun detik tidak berhenti yang namanya top hits Indonesia dan Barat, kecuali dia sedang tidur dan mandi. Hal itu membuatku mencuri-curi waktu untuk dapat mengubah lagu-lagu itu dengan lantunan Al-Qur’an.
Aku lebih senang dengan hal-hal yang berkenaan dengan agama. Sejak kecil aku dididik di lingkungan islami, sempat mondok 3 tahun, dan hingga detik ini, aku seorang mahasiswi semester 5 di salah satu universitas Islam di Malang. Sedangkan Awik, meskipun memiliki basic madrasah tetapi pergaulannya lebh bebas daripada aku. Meskipun kami berbeda, dia tetap mengerti dan menyayangiku, contohnya pas ultahku ia memberikan kado buku-buku islami ketimbang chicken soup yang disukai remaja umumnya. Dan begitu juga aku sangat mencintai orang yang hanya dua tahun dibawahku itu.

***
Kuintip kamar Awik dari pintu yang sedikit terbuka. Ia berbaring, nampaknya bête sekali. Kuhampiri adik semata wayangku itu.
“Ada apa, Wik? Kok kayaknya bosan gitu?” ucapku mengawali percakapan.
“Masak baru jadi mahasiswa sudah putus cinta” godaku, tapi ia tetap saja acuh sambil tetap membolak-balik majalah “Hello”. Biasanya kalau ia cemberut, penyebabnya ada dua, putus cinta atau sedang ditaksir cowok. Ku duduk mendekatinya dan membelai rambtnya yang panjang, hal yang biasa kulakukan, jika ia sudah tidak mau ngomong. Ternyata jurusku mempan juga, Awik langsung buka mulut.
“Mbak, kenapa namaku Rabiah, sih? Itu ‘kan namanya seorang budak, katanya teman-teman nama itu kuno, nggak cocok dengan aku yang funky, gaul, dan cool begini, mestinya seperti Vonny, Imelda dan Sevia namanya keren sama seperti orangnya.”Awik menceritakan asal-muasal sikap cemberutnya. Tidak kusangka masalah sesepele ini, padahal sebelum masuk kampus no problem about her name. Lalu kugenggam tangannya seraya menatapnya dengan tersenyum, “Adikku yang manis, Rabiah memang nama seorang budak, tetapi dia adalah budak yang memiliki keimanan yang kuat dan rasa cinta kepada Allah. Ia rela disiksa apapun demi untuk beribadah kepada Allah. Mestinya kamu bangga dengan nama Rabiah al Adawiyah. Bapak dan ibu memberikan nama itu dengan harapan kamu dapat memiliki keimanan yang kuat sepertinya,” gayaku bicara seperti da’i berkobar-kobar, maklum kemarin habis nonton VCD Rabiah al Adawiyah.
“Tapi mengapa sampai sekarang aku tidakmemiliki keimanan seperti dia, justru sebaliknya aku suka hura-hura, pacaran, pokoknya nggak cocok, mbak! Aku ingin ganti nama, misalnya Madeta Syachputri, itu rancangan nama baruku, bagus nggak, mbak?” Awik mulai dengan rencana “nyeleneh”nya, mana bisa ganti nama sudah sebesar ini, batinku.
“Sudah deh, nggak usah ganti-ganti nama, kalau sekarang kamu belum punya keimanan seperti Rabiah, mungkin besok, bulan depan atau tahun-tahun mendatang, pokoknya sekarang pede aja lagi, masak Awik nggak pede,”aku berusaha memberinya motivasi.
“Enak memang ngomong disuruh pede, jelas saja mbak ‘kan namanya Fatimatuz Zuhroh sesuai dengan mbak, pinter, alim , kalem, nggak neko-nekokayak aku,” ucap Awik membuatku ge-er dan tersipu-sipu.
“Sudah ah, berdo’a sajalah semoga kamu cepat beriman seperti Rabiah, besok ‘kan sudah Romadlon, nanti malam tarawih ya di masjid?” aku pergi meninggalkan adik funky-ku itu setelah mengucek rambutnya. Masih terdengar ucapan malasnya, “Nggak ah, nanti malam sinetronnya bagus.”
***
Angin katakan padanya..aaa.. bahwa aku cinta dia..aa
Angin katakan padanya..aaa..bahwa aku suka dia..aa
Lantunan sura Awik menirukan lagunya Dewa langsung bergema selepas salam, lalu berlenggak-lenggok mengelilingi aku yang sedang tilawah di ruang tamu. Segera kututup Al-Qur’an karena kutahu bahwa Awik sedang gembira dan akan menyampaikan sesuatu.
“Ada apa adikku?kok gembira sekali habis tadarrus atau berhasil sholat fardlu tepat waktu?” tanyaku memancing.
“Mbak, ataunya kok nggak ada yang negative misalnya habis nge-date atau habis godain kakak tingkat?”
“Kamu lupa, ini ‘kan bulan puasa, mbak yakin kamu nggak akan melakukan hal-hal yang nggak-nggak dan lagi kita ‘kan harus berhusnudzon.”
“Oke deh, terima kasih atas pengertiannya, tapi bukan habis tadarrus, tapi…mbak, hu… seru!” Awik tampaknya habis kena hujan bunga atau bom sangat meluap-luap ceritanya, pasti sesuatu yang amazing.
“Coba mbak, Deny si ketua BEM yang cakep and tajir itu, yang aku taksir itu, tadi, sepulang kuliah nyatain cinta ke aku, gimana nggak seneng apalagi dengan memberikan setangkai mawar. Nggak sembarang cewek lho, mbak, dapat keistimewaan seperti itu.”
Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan adikku itu. “Tapi kamu tetap puasa ‘kan?” tanyaku padanya setelah ia mengakhiri ceritanya.
“Tentu, dong! Rabiah harus puasa untuk mendapatkan keimanan seperti Rabiah al-Adawiyah, seperti pesan mbak. Tapi, apakah jatuh cinta itu membatalkan puasa, mbak?”
“Tidak batal sih puasanya, tapi…”
“Tuh, ‘kan tidak batal. Berarti meskipun puasa aku boleh jatuh cinta dengan Deny,” potong Awik
“Tapi, Wik dnegarkan dulu, belum selesai penjelasannya!” aku agak ngotot.
“Tidak ada tapi-tapian mbakku sayang!” Awik berusaha meninggalkanku dengan tertawa, tapi langsung kukejar dan kugelitiki tubuhnya.
“Ima! Awik! Ayo berbuka dulu, kalian tidak mendengar adzan Maghrib?” suara bapak membuat kami berhenti, ibu yang membawa nampan berisi es dan kue tersenyum melihat ulah kami berdua.
***
Siang hari di Malang begitu panas, sehingga membuatku berpeluh, tapi meski begitu, aku senang karena baru membeli kaset nasyid yang aku gemari. Namun, ada kekhawatiran kalau-kalau si Awik tidak mau meminjamkan tapenya. Sesampai di rumah, perasaan khawatirku semakin menjadi karena yang di setel pas “Soledad-nya Westlife”, favorit songnya Awik. Tapi aku akan tetap merayunya.
“Wik! Kamu nggak kul hari ini?”
“Ngomong aja kalau butuh bantuan, nggak perlu basa-basi, mbak, bulan puasa lho!”
“Hmm..aku pinjam tapenya, boleh ‘kan?”
“Sebetulnya, aku nggak mau, tapi berhubung bulan puasa, boleh deh, tapi…”
“Tapi apa?” tanyaku
“Ada bonusnya, lah yaw!”
“Beres! Aku bawa vcd-nya Rabiah al-Adawiyah yang ingin kamu tonton” lalu kukeluarkan vcd yang memnag kupersiapkan untuk merayunya.
“Asyik!! Langsung aku tontotn deh! Silakan nikmati tapenya!”
Tidak kusangka Awik seriang itu, dia langsung kabur membawa vcd dari tanganku.
***
Sayup-sayup terdengar bunyi percakapan di tv, aku melirik jam 22.30. ternyata aku tertidur setelah tarawih tadi. Siapa yang masih nonton tv malam begini? Kalau di luar romadlon pasti Awik yang nonton tv hingga larut, tapi kalau romadlon biasanya ia langsung tidur selepas tarawih agar bisa bangun untuk sahur.
Pelan-pelan kuputuskan mengintip dari daun pintu. Ya, Allah ternyata Awik sedang terpaku menonton vcd Rabiah al-Adawiyah, padahal setahuku tadi siang ia sudah menamatkannya. Aku menutup pintu beranjak tidur kembali. Biarlkah Awik merenungi cerita itu, semoga saja ia segera mendapatkan keimanan yang dicita-citakannya.
“Lho, Wik! Kamu mau kemana pagi-pagi begini? Kok beres-beres baju, kalau putus cinta dengan Deny, ya… nggak usah pakai acara minggat-minggat segala,” godaku saat kutemui ia sedang meletakkan baju-baju seret dan jeansnya ke koper besar.
“Baju-baju ini akan kuberikan pada teman-teman kalau nggakmau pokoknya aku berikan pada yang mau. Aku sekarang akan memakai baju muslimah dan berjilbab seperti mbak, bukan jilbab yang transparan dan pendek seperti ini. Sementara ini boleh ‘kan pinjam bajunya mbak untuk kuliah, sekarang akan kutunjukkan bahwa aku percaya diri dengan nama Rabiah al-Adawiyah. Oh iya, mbak aku nanti juga dipinjami buku-buku isla ya? Aku ingin berubah karena romadlon ini adalah romadlon terakhir bagiku untuk membersihkan diri.”
Aku hanya terpaku mendengar perkataan adikku yang bersemangat itu, tiada kusangka begitu cepatnya suatu hidayah merubah seseorang.
Sejak saat itu Awik memang benar-benar berubah. Pakaiannya lebih longgar dan berjilbab menutup dada, kemana-mana yang dibawa buku-buku islam dan hobinya berwalkman, kini, diisi dengan murottal, sholawat atau nasyid. Hari-hari romadlonnya diisi dengan membaca Qur’an dan sholat lail.
Cinta pada Allah, cinta yang hakiki
Cinta pada Allah, cinta yang sejati
Bersihkan diri, gapailah cinta, cinta Ilahi
Alunan the Fikr keluar dari tapenya Awik. Kuhampiri ia sedang menekuri buku-buku islami milikku.
“Eh, mbak, duduk sini, aku mau cerita.” Aku langsung mengambil posisi di dekatnya.
“Mbak, tadi malam waktu I’tikaf, aku tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi bertemu nabi Muhammad wajahnya cakep, putih dan bercahaya, beliau membawaku ke tempat yang indah, semuanya berwarna hijau. Apakah yang kulihat benar beliau, mbak?”
Aku takjub mendengar cerita adikku, jarang sekali orang yang bermimpi bertemu Nabi.
“InsyaAllah benar, Wik, setahuku tidak ada yang dapat menyerupai wajah Nabi Muhammad sekalipun itu setan. Kamu beruntung sekali bisa bertemu beliau karena tidak banyak orang yang dapat bermimpi seperti itu.” Kupandangi wajah adikku yang tampak berbinar.
“Oh iya, mbak, sekarang, setelah membaca banyak tentang islam, aku sadar bahwa cinta terbesar itu hanya untuk Allah semata, karena Allah lah tempat bergantung, yang selalu mendengar kita dan selalu memberikan kasih sayang yang tidak terhingga, tidak seperti… ah nggak jadi deh,” Awik tidak meneruskan kata-katanya.
“Tidak seperti siapa? Si Deny maksudmu?”
“Ah, Mbak, nggak boleh begitu kita harus berhusnudzon, makanya aku tidak melanjutkan kata-kataku tadi.”
“Tapi… tapi maksudnya dia ‘kan?” aku menggodanya lagi.
“Ah, Mbak!” Awik agak tersipu dan kami pun tertawa sambil berpelukan.
***
“Ima, ada telepon dari ibumu,” ucap salah seorang temanku. Ada apa sih? Tidak biasanya Ibu menelepon ketika aku sedang rapat di sekretariat LAGZIS, batinku. Segera kuangkat gagang telepon yang masih menelungkup.
“Assalamu’alaikum, ada apa , bu?” rasanya aku tidak percaya dengan perkataan ibu di seberang sana, dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
Kubuka mata, ternyata aku telah di rumah entah siapa yang membawaku kesini. Di luar kamar terdengar hiruk-pikuk orang. Pelan-pelan kuberanjak dari tempat tidur. Dari balik pintu kulihat seorang gadis terbujur kaku dengan senyum yang tersungging di bibir Rabiah al Adawiyah. Hari ini 27 romadlon, adikku satu-satunya yang tersayang telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Tiada kusangka rangkaian waktu mulai awal hingga saat ia meninggal pada bulan romadlon ini merupakan perjalanannya untuk mendapatkan keimanan yang ia cita-citakan.
Ibu mengatakan bahwa sebelum sholat Dzuhur tadi, Awik bilang mau keramas biar bersih karena mau jalan-jalan. Dan di kala sholat dzuhur, ibu kaget mendengar bunyi benda berat jatuh di kamar sholat. Ternyata, Awik dipanggil Allah saat sedang melaksanakan sholat, dalam posisi setengah bersujud ia menghembuskan nafas terakhirnya.
***
Kumasuki kamar Awik yang masih wangi dengan bunga melati, yang biasa dipetiknya di belakang rumah dan ditabur di tempat tidurnya. Kutemukan agenda hariannya dan pada halaman yang terdapat pita pembatas itu tertulis:
Malam 25 Romadlon
Sembilan belas tahun seudah umurku, entah berapa waktuku yang tersisa untukMu selama masa-masa yang telah Kau berikan. Duhai Allah, kekasihku apakah aku layak mendampingiMu mulai hari ini? Tentu tidak karena aku tidak selalu dan bahkan tidak mau pernah mau berkorban untukMu. Melihat dunia ini yang membuat aku jatuh cinta, melihat, mendengar, merasakan dan akhirnya aku tersakit, terlena dengan ajakannya. Jika esok aku mati pasti kutinggalkan semua ini buku, kasur, selimut dan orang-orang yang kukasihi, tapi apakah aku tetap bisa menemuiMu. Oh, ingin rasanya aku cepat mati tetapi apakah aku bisa bertemu denganMu, aku takut sekali pada hari ini dan selanjutnya, aku takut mencintai lebih dari cintaku padamu. Entah sampai kapan aku begini aku ingin memadu kasih denganMu tapi tidak bisa karena aku jelek, kotor, berlumuran panas api, aku tidak dapat menggapiMu. Ulurkan tanganMu, dekaplah jiwa ini bersama embin esok pagi, ku harap bisa bertemu dengan Engkau kekasih pujaan jiwa raga hidup atau mati, pintu hati tetap terbuka selama Engkau disisiku.

Lalu disamping halaman itu terdapat secarik kertas berisi kata-kata yang kutahu bahwa itu diambilnya dari buku tentang Rabiah al Adawiah yang kuberi padanya. Kertas itu bertuliskan:

Tuhanku, kalau aku mengabdi padaMu karena takut api neraka,
Masukkanlah aku kedalam neraka itu dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hambaMu yang lain
Kalau aku menyembahMu karena mengharap mendapatkan surga, berikan surga itu kepada hamba-hambaMu yang lain, sebab bagiku Engkau saja sudah cukup

Artikel Menarik Lainnya

0 komentar:

Poskan Komentar

Daftar Blog Saya